Selasa, 22 Januari 2013

Umar bin Abdul Aziz dan Lilin Negara

“Bukankah Anda tahu bahwa setiap umat itu memiliki orang yang mulia, dan orang mulia bagi Bani Umayyah adalah Umar bin Abdul Aziz, dan dia akan dibangkitkan pada hari kiamat menjadi umat yang satu.” (Muhammad bin Ali bin Al-Husein)


Siapa yang tidak kenal dengan sosok Umar bin Abdul Aziz, pemimpin yang penuh dengan kesederhanaan dan  hidup bersahaja demi kesejahteraan rakyatnya. Lelaki yang menangis ketika pertama kali diberikan amanah kepemimpinan oleh Sulaiman bin Abdul Malik sebelum beliau wafat.Sulaiman memerintahkan seluruh menteri dan gubenur agar berbai’at (berjanji) untuk setia dan mendukung kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Penerus dinasti Bani Umayyah ini tidak memiliki pilihan ketika beliau diangkat menjadi khalifah. Dalam tangisnya Umar bin Abdul Azis berucap: “Innalillahi wa Innaa ilaihi raji’uun, Demi Allah, sungguh aku tidak pernah meminta hal ini sedikit pun, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan”

Beliau berkata kepada istri sambil menangis terisak-isak” Wahai Istriku Aku telah di uji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku sedang teringat kepada orang-orang yang miskin, ibu-ibu yang janda, anak-anaknya ramai, tapi rezekinya sedikit, aku teringat orang-orang dalam penjara, para fuqara (mereka yang tidak bepenghasilan). Aku tahu, mereka akan mendakwahi aku di akhirat kelak dan aku takut dan bimbang aku tidak dapat menjawab pertanyaan  mereka sebagai khalifa,  karena aku tahu, yang akan akan menjadi pembela meraka adalah Rasullullah saw.” Subhanallah, Seorang Khalifah yang dulu masa muda diberi kenikmatan oleh Allah berupa Harta, Nasab (nikmat) yang Istimewa, dan Istri yang Setia, begitu takut dan Lemahnya pada saat di percaya umat untuk Menjadi Amirul Mukminin.
Pada saat beliau menjadi Khalifah, beliau lepas semua pakaian mewah yang beliau pakai, beliau ganti dengan pakaian yang sederhana. Ada suatu kejadian yang menarik yang pernah di lakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz,  Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah kepada beliau. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz dalam keadaan malam menjelang. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, “Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya”.
Penjaga itu masuk untuk memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur.  Umar pun duduk dan berkata, “Izinkan dia masuk”. Utusan itu masuk, dan Umar menyuruh pelayannya untuk menyalakan lilin yang besar, sembil menyuruh utusan tadi untuk duduk. Umar berkata kepadanya “wahai hamba Allah, apa sajakah berita yang kau bawa dari gubernurku?”. Dan utusan itu pun menjelaskan semua yang di sampaikan oleh Gubernur kepada Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz.
Umar pun puas dengan jawaban Utusan tersebut, dan ketika pertanyaan Umar telah selesai dijawab semua, utusan itu berbalik bertanya kepada Umar. “Ya Amirul Mukmin, bagaimanakah keadaanmu, keluargamu, dan seluruh pegawai pemerintahanmu? Dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu?”, Umar mematikan api lilin besar yang menyala tadi, dan memanggil pelayannya “wahai fulan, tolong nyalakan lilin kecil dekat dapurku berada”. Pelayan itu pun menyalakan lilin kecil yang terangnya tidak sampai ke seluruh ruangan yang ada di kantornya.
Dengan sikap Umar yang mematikan lampu tadi, juga menimbulkan rasa penasaran pada diri utusan tadi “Wahai Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah anda lakukan.” Umar menimpali “Apa itu wahai fulan?”. “Engkau mematikan lilin besar yang cahayanya sampai ke seluruh pojok ruangan ini dan mengantikannya dengan lilin kecil yang cahayanya tidak begitu besar, dan itu pada saat aku bertanya perihal keadaanmu dan keluargamu”. Umar menjawab dengan nada yang sedih, ”wahai hamba Allah, lilin yang ku nyalakan tadi adalah harta Negara, harta para kaum muslimin, dan kau datang kepada ku demi mereka, maka aku hidupkan lilinnya, dan sedangkan barusan kau bertanya tentang keluargaku, maka aku matikan lilin milik harta kaum muslimin ini, dan aku ganti dengan lilin ku”, Umar melanjutkan “Wahai Hamba Allah, sesungguhnya aku takut di akhirat kelak aku dicap sebagai pemimpin yang tidak amanah”.

Subhanallah, benar-benar mengagumkan. Beginilah seharusnya akhlak seorang pemimpin. Pemimpin yang benar-benar menjalankan amanat rakyat, yang takut menggunakan harta rakyat walau hanya sementara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

007isdead.blogspot.com berbagi ilmu berbagi cerita